Kamis, 11 Oktober 2012

Idul Adha


Sesungguhnya Idul Adha dirayakan untuk menapak tilas perjalanan hidup Nabi Ibrahim. Ini karena Nabi Ibrahim dianggap sebagai sumber teladan.
Ajaran-ajaranya merupakan asal-usul dan fondasi dari agama Yahudi, Kristen, dan Islam.
Dalam tradisi Yahudi, Nabi Ibrahim adalah penerima pernjanjian (kovenan)
asli antara orang-orang Ibrani dan Tuhan. Dalam tradisi Kristen, ia adalah
se-orang patriakh terkemuka dan menjadi penerima perjanjian formatif dan
orisinal yang disarikan dalam kovenan Mosa, sedangkan perjanjian kedua
dipandang telah dibuat untuk Yesus Kristus.
Dalam tradisi Islam, Ibrahim bukan hanya seorang nabi dan pewarta wahyu,
tapi juga Bapak Monoteisme. Ajaran monoteisme Nabi Ibrahim kontras dengan keyakinan *mainstream*. Ia menuai badai kontroversi di tengah masyarakat. Resistensi terhadap Ibrahim merebak, termasuk dari ayah kandungnya sendiri, Azar.
Namun, Ibrahim tetap mendahulukan cara dialog ketimbang cara kekerasan.
Alquran surat al-Syu`ara ayat 70-102 merekam dengan baik dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahanda, plus kaumnya itu. Sekalipun sang ayah tetap pada keyakinannya semula, Ibrahim tak memaksakan kehendak bahkan mendoakan keselamatan ayahandanya di akhirat kelak.
Begitu juga, ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengurbankan anaknya, ia berdialog dengan sang anak. Ia meminta pendapat sang anak sekiranya penyembelihan atas dirinya positif diselenggarakan.
Nabi Ibrahim sempat ragu. Namun, setelah si anak meyakinkannya, barulah ia mantap menjalankan perintah. Digambarkan dalam Alquran pernyataan sang anak, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu, niscaya aku termasuk orang-orang yang sabar (Ya abati if`al ma tu’mar satajiduni insyaallah min al-shabirin)”.
Melalui ayat itu diketahui, Ibrahim bukan hanya berdialog dengan Tuhan
sebagai sang pemberi wahyu, melainkan juga berkomunikasi dengan anak sebagai pihak yang akan menerima konsekuensi paling mengerikan dari wahyu penyembelihan itu. Akhirnya, Tuhan menyelamatkan sang anak dari hunusan pedang tajam Nabi Ibrahim dengan digantikan oleh seekor domba. Kisah dramatis itu menunjukkan konsistensi Nabi Ibrahim untuk bermusyawarah terutama dengan pihak yang akan dirugikan.
****
Tradisi dialog Nabi Ibrahim ini dilanjutkan Nabi Muhammad. Disebutkan dalam Alquran, “Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan arif-bijaksana, nasihat yang baik, dan dengan diskusi yang produktif (ud`u ila sabili rabbika bi al-himah wa al-maw`idat al-hasanat wa jadilhum bi allati hiya ahsan)”.
Ketika sampai di Madinah, Nabi Muhammad menggunakan cara dialog untuk
mengatasi konflik yang sudah berpuluh tahun berlangsung, hingga akhirnya
terbangun sebuah traktat politik yang disebut Piagam Madinah. Piagam itu
merupakan konsensus bersama antarseluruh penduduk Madinah. Menarik dicatat bahwa pada saat itu Islam belum menjadi agama mayoritas. Berdasarkan sensus yang dilakukan ketika pertama kali Nabi berada di Madinah, diketahui bahwa jumlah umat Islam hanya 1.500 dari 10.000 penduduk Madinah. Sementara orang Yahudi berjumlah 4.000 orang dan orang-orang Musyrik berjumlah 4.500 orang.
Apa yang dilakukan Nabi Muhammad itu menginspirasi Umar ibn Khattab untuk membuat traktat serupa di Yerusalem, dikenal dengan “Piagam Aelia”. Piagam itu berisi jaminan keselamatan dari penguasa Islam terhadap penduduk Yerusalem, yang beragama non-Islam sekalipun.
Salah satu penggalan paragrafnya berbunyi demikian: “Inilah jaminan keamanan yang diberikan Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Aelia: Ia menjamin keamanan mereka untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka, dalam keadaan sakit maupun sehat, dan untuk agama mereka secara keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki dan tidak pula dirusak, dan tidak akan dikurangi sesuatu apa pun dari gereja-gereja itu dan tidak pula dari lingkungannya, serta tidak dari salib mereka, dan tidak sedikit pun dari harta kekayaan mereka (dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak seorang pun dari mereka boleh diganggu”.
Fakta-fakta historis di atas sengaja diungkap untuk menunjukkan cara-cara
bermartabat para founding fathers agama-agama semitik dalam menyikapi pluralitas agama-keyakinan, etnis, suku, dan sebagainya. Jelas, sebagaimana diteladankan Ibrahim, Nabi Muhammad adalah tokoh yang proaktif mencari solusi konflik dan perselisihan dengan menyelenggarakan dialog lintas suku dan agama.
Cara-cara dialog seperti ini yang sering alpa dari kelompok-kelompok yang
melancarkan vonis sesat-menyesatkan kepada yang lain. Tanpa diskusi. Cara penyelesaian seperti itu menyimpang dari tradisi Nabi Ibrahim, Nabi
Muhammad, dan para sahabatnya.
Idul Adha bagi umat Islam adalah momentum untuk meneladani sunnah Nabi Ibrahim.
 Idul Qurb...

Rabu, 03 Oktober 2012

Pelayanan Prima



PELAYANAN PRIMA DIPELAYANAN KESEHATAN/KEPERAWATAN
Oleh : Hj. Misparsih, S.Kp.,M Kes
PENDAHULUAN
Ø  Issu global yang diikuti dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat
Ø  Liberalisme perdagangan barang maupun jasa pelayanan kesehatan akan bedampak terhadap lingkungan kesehatan
Ø  Tekanan demografi dan epidemiologi
Ø  Beban sosial ekonomi yang mana pemerintah terpaksa menggeser beban pembiayaan kesehatan kepada masyarakat sendiri dan pada sector swasta
Ø  Pelayanan kesehatan harus dapat meningkatkan daya saingnya agar dapat bertahan dan tumbuh
Ø  Berbagai upaya harus dilakukan untuk melakukan pelayanan yang bermutu sesuai standar yang dapat dipertanggungjawabkan dan senantiasa di audit dari waktu ke waktu
Ø  Pelayanan prima, yaitu derajat kesempurnaan pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan yang sesuai dengan standar dan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia secara wajar, efisien, efektif yang diberikan secara norma etika, hukum dan budaya
PELAYANAN PRIMA DALAM UPAYA PENINGKATAN DAYA SAING
Ø  Menyediakan upaya kesehatan yang bermutu
Ø  Menyediakan upaya pemeliharaan kesehatan dasar yang terjangkau dan sama bagi setiap orang
Ø  Memanfaatkan sumberdaya dan sumber dana kesehatan secara efisien
MENYEDIAKAN UPAYA KESEHATAN YANG BERMUTU
·         Masyarakat beranggapan bahwa pelayanan kesehatan adalah hak. Oleh karena itu harus tersedia dengan baik
·         Pelayanan kesehatan yang diinginkan cepat, akurat, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, ramah dan dengan biaya yang wajar
·         Setiap tindakan medik/keperawatan harus selalu mempertimbangkan nilai yang dianut pada diri pasien
·         Setiap tindakan korektif dibuat dan meminimalkan resiko terulangnya keluhan atau ketidakpuasan pada pasien lainnya
·         Membuat program patient safety yang bertujuan untuk meningkatkanm mutu pelayanan
·         Mengembangkan akreditasi dalam meningkatkan mutu Rumah Sakit dengan indicator pemenuhan standar pelayanan yang ditetapkan DEPKES
·         ISO 9001 :2000 yaitu standar internasional untuk manajemen kualitas yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses pelayanan terhadap kebutuhan persyaratan yang dispesifikasikan oleh pelanggan dari rumah sakit
·         Mengup-date keilmuan untuk menjamin bahwa tindakan medik/keperawatan yang dilakukan didukung oleh bukti yang mutakhir
Memperhatikan asas etika terhadap pasien yaitu :
a)      Berbuat hal-hal yang baik (beneficence) terhadap manusia khususnya pasien, staf klinis dan non kllinis, masyarakat dan pelanggan secara umum
b)      Tidak berbuat mudhrat (nonmaleficence) terhadap manusia
c)      Menghormati manusia (respect for person), menghormati hak otonomi, martabat, kerahasiaan, berlaku jujur, terbuka, empati
d)     Berlaku adil (justice) dalam memberikan pelayanan
MENYEDIAKAN UPAYA PEMELIHARAAN KESEHATAN DASAR YANG TERJANGKAU DAN SAMA BAGI SETIAP ORANG
Adanya sistem pemeliharaan kesehatan yang memberikan kebebasan memilih, baik bagi pemberi (provider) maupun bagi penerima layanan kesehatan
Ada dua pilihan jenis upaya pemeliharaan kesehatan :
a)      Negara membiayai seluruhnya (SKTM) atau mensubsidi pemeliharaan kesehatan yang bermutu, adil, merata dan terjangkau. Biaya bersumber dari semua wajib pajak melalui APBN/APBD dan dari sumbangan
Pembayaran oleh konsumen sendiri yang besarnya sesuai dengan kemampuan rakyat kebanyakan (ASKIN/ASKESKIN)
Pihak swasta diberi kesempatan untuk menjadi provider baik domestik maupun asing atau patungan domestik dan asing
Pemerintah dengan perangkat hukumnya dan kendali moral oleh perhimpunan profesi harus tetap ada, demi perlindungan masyarakat sebagai konsumen
b)      Yang lebih mampu diberi kebebasan memilih sesuai kemampuan ekonomi, keinginan dan harapan masing-masing. Biaya bersumber dari pembayaran ssendiri, oleh asuransi kesehatan penyelenggara JPKM
MEMANFAATKAN SUMBER DAYA DAN SUMBER DANA KESEHATAN SECARA EFISIEN
·         Sarana pelayanan kesehatan khususnya RS sudah menjadi buissness entity
·         Pengetahuan konsep manajemen merupakan prasarat utama pimpinan sarana pelayanan kesehanatan / RS termasuk pengetahuan/kemampuan leadership, advokasi, mengenai aspek manajemen perubahan dll
·         Cara mengatasi masalah manajemen juga lebih kearah kompromistis daripada konfrontatif
·         Diperlukan Good Corporate Governance yang mengatur aspek institusional dan aspek bisnis dalam penyelenggaraan sarana pelayanan kesehatan dengan memperhatikan transparasi dan akuntabbilitas sehingga tercapai manajemen yang efisien dan efektif
·         Juga Clinical Governance merupakan bagian dari Corporate Governance adalah kerangka kerja organisaasi pelayanan kesehatan yang bertanggung jawab atas peningkatan mutu secara berkesinambungan, tetap menjaga standar pelayanan yang tinggi dengan menciptakan lingkunag yang kondusif. Clinical Governance menjelaskan hal-hal yang penting yang harus dilakukan seorang dokter dalam menangani konsumennya (pasien dan keluarga)
·         Membangun aliansi strategic dengan RS lain baik di dalam atau luar negeri. Kerjaasama yang lintas sektor dan lintas fungsi harus menjadi bagian dari budaya RS, demikian juga team work yang baik. Budaya dikotomi pemerintah-swasta harus diubah menjadi falsafah “bauran pemerintah-swasta (public-private mix) yang saling mengisi dan konstruktif”
·         Melakukan evaluasi terhadap strategi pembiayaan sehingga tarif pelayanan bisa bersaing secara global misalnya outsorcing investasi, contracting out untuk fungsi tertentu seperti cleaning service, gizi, laundry, perparkiran
·         Sering terjadi benturan nilai, disatu pihak masih kuat sistem nilai masyarakat. Secara umum bahwa RS adalah institusi yang mengutamakan fungsi sosial. Sedangkan dipihak lain, etos para pemodal/investor dalam/luar negeri menganggap RS adalah industri dan bisnis dengan dmkn absah berorientasi mencari laba
·         Orientasi bisnis dapat besar dampak positifnya, bila potensial negatif dapat dikendalikan, misal tindakan medis yang berlebihan dan sebenarnya tidak bermanfaat bagi pasien, peluang terjadi manipulasi pasien demi keuntungan financial bagi pemberi layanan kesehatan
·         Oleh karena itu perlu mekanisme pembinaan etik yang mengimbangi dua sistem nilai yang dapat bertentangan antara fungsi sosial dan fungsi bisnis
Profesional
Selalu siap bekerja sesuai dengan prosedur, berorientasi pada kualitas dan menjunjung tinggi etika profesi
Responsif
Selalu siap bekerja dengan empati, tanggap, inisiatif, proaktif, beradaptasi terhadap perubahan lingkungan
Inovatif
Mempunyai ide untuk melakukan perbaikan penyempurnaan dan pengembangan
Mulia
Menjunjung tinggi norma etika dengan mengutamakan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi dan terbangun semangat kerjasama
Arif
Mampu memandang persoalan secara rasional/obyektif, tidak emosional dan bertindak secara adil
BENTUK PELAYANAN PRIMA DALAM KEPERAWATAN
v  Melayani dengan hati dan senyum
v  Melayanai dalam kehidupan sehari-hari
v  Bekerja adalah ibadah dan amanah
v  Bahagiamu adalah bahagiaku
SEBELAS PERILAKU PELAYANAN PRIMA
·         Senyum tulus
·         Wajah hangat dan bersemangat
·         Pelanggan adalah orang penting
·         Dengarkan kebutuhannya
·         Menyebutkan namanya
·         Bahasa tubuh positif
·         Bicarakan yang diminati pelanggan
·         Bahasa yang halus dan tepat
·         Prosees yang sudah/sedang/akan dikerjakan
·         Product knowedge (RS)
·         Tampil dengan rapi